A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

MENGHIDUPKAN KEMBALI GURAMI CENTER

Pembangunan Gurami Center (GC) yang diprakarsai oleh Universitas Jenderal Soedirman dan Dinas Peternakan dan Perikanan Purbalingga serta Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah pada medio tahun 2006 merupakan suatu terobosan yang sangat bagus.  Hal ini dilandasi bahwa potensi unggulan daerah utamanya eks karesidenan Banyumas adalah ikan Gurami perlu dikembangkan.  Namun gagasan cemerlang tersebut hingga saat ini tetap diam ditempat, tidak ada tindak lanjut dan gerakan apapun.  Gedung GC yang megah dibangun hingga dua lantai ini mangkrak, hanya menjadi saksi bisu suatu niat baik dan kecermalangan gagasan membangun potensi daerah.  Sampai kapan harus seperti ini?

Peran Strategis GC

Sebenarnya keberadaan GC di Purbalingga sangat strategis, secara geografis tidak terlalu jauh dengan wilayah pengembangan ikan gurami lainnya di Jawa Tengah seperti Banjarnegara, Banyumas dan Cilacap.  Kita sadar dan memahami bahwa potensi unggulan daerah belum dimanfaatkan secara optimal dan terpadu dalam pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.  Eks karesidenan Banyumas sebagai trade center penghasil ikan gurami harus benar-benar diperhatikan pemerintah daerah dalam pengembangannya.

Perguruan Tinggi sebagai lentera IPTEK diharapkan mampu mengorientasikan kemampuan SDM dan mendorong peran aktif dalam penyelesaian masalah pembangunan.  Demikian pula halnya dinas-dinas terkait dan masyarakat dapat memperoleh informasi dan mendesiminasi kemajuan teknologi yang mutakhir dalam mengatasi permasalahan pengembangan budidaya ikan gurami.  GC diharapkan dapat menjadi jembatan informasi dan wadah komunikasi dengan masyarakat dalam menjawab dialektika IPTEK yang terjadi demikian cepat.

Seperti kita ketahui bahwa sektor pertanian dalam arti luas merupakan sektor-sektor yang menjadi prioritas di Jawa Tengah.  Banyak sektor produksi strategis kurang berkembang karena lemahnya penguasaan berbagai bidang teknologi yang terkait.  Untuk budidaya ikan gurami sendiri masih bersifat tradisional.  Untuk itu, sektor produksi perlu didukung dengan teknologi agar usaha senantiasa berkelanjutan. Kemajuan teknologi itu sendiri juga perlu didukung dengan berbagai riset dan pengembangan dan tentunya teknologi yang diciptakan harus mampu diadaptasikan untuk aplikasi di lokasi yang berbeda guna melihat variabilitas ekonominya.  Hal ini sudah barang tentu akan  memerlukan kemampuan dan fasilitas secara integral yang merupakan bagian dari pengembangan teknologi di bidang perikanan itu sendiri. Teknologi juga harus diartikan sebagai cara yang lebih baik dan lebih efisien untuk suatu kegiatan sehingga dapat meningkatkan produktifitas sesuai dengan tingkat dan daya serap masyarakat secara berkesinambungan.

Menghidupkan GC dan peranan Balitbangda

Identifikasi awal kenapa GC tidak berjalan, diduga masih belum adanya titik temu antara lembaga pendiri baik yang bersifat konsep rencana kerja, anggaran maupun teknis. Atau mungkin masalah utamanya adalah anggaran, siapa yang harus menyediakan dana??

Untuk menghidupkan kembali GC sesuai tujuan awal pendiriannya, upaya nyata yang dapat dilakukan adalah meningkatkan peran balitbangda terutama dalam menyediakan dana riset terpadu untuk pengembangan produk-produk unggulan daerah seperti halnya pengembangan ikan gurami.  Riset tanpa dana menjadi tak bermakna.

Pemerintah daerah baik kabupaten/propinsi umumnya mempunyai badan penelitian dan pengembangan.  Balitbangda harus mampu melakukan pemanfaatan sumberdaya manusia, anggaran, sarana riset yang tersedia dengan terarah dan terpadu dalam suasana riset yang sehat, kondusif, sinergis serta saling melengkapi dalam menunjang pembangunan daerah.

Peningkatan peran balitbangda dilandasi bahwa dinas perikanan kabupaten/propinsi sudah barang tentu tidak mempunyai otoritas, finansial dan kemampuan untuk melakukan riset, mungkin untuk desiminasi dan pengembangan baru bisa diikutsertakan.  Lain halnya perguruan tinggi (PT) dengan dukungan sumberdaya manusia dan fasilitas penelitian kiranya mampu melakukan pendampingan teknologi baik yang bersifat fundamental maupun aplikatif.  Namun PT juga mempunyai keterbatasan dalam dana riset, paling besar PT maksimal hanya dapat memberikan dana hibah kompetitif untuk setiap penelitian sebesar 10 juta dalam 1 tim (3-5 orang).  Itupun harus dengan bersaing dan pemerataan untuk setiap fakultas/jurusan.  Kesempatannya setiap dosen paling hanya 1 atau 2 kali mendapatkan dana hibah tersebut.

Program riset yang dikembangkan oleh GC sudah jelas mempunyai keterkaitan dengan sektor riil, sehingga riset unggulan daerah diarahkan untuk sedapat mungkin menunjang pembangunan daerah, dapat dipertanggung jawabkan dan tidak hanya sebagai tumpukan laporan semata. Beruntung lembaga balitbangda tidak menjadi perhatian oleh wapres Jusuf Kalla seperti halnya jajaran di bawah kementrian ristek yaitu LIPI dan BPPT.

Penyediaan dana riset pengembangan oleh balitbangda bisa dilakukan secara paket kepada GC atau kompetitif kepada dosen-dosen di bawah pengawasan dan pengelolaan staf GC.  Namun sebagai catatan penting sebelum dana riset digulirkan, pengelola GC hendaknya membuat suatu roadmap riset yang jelas, terarah, terpadu dan bernilai tambah. Dengan demikian output, outcome,benefit dan impact dari GC dapat tercapai.  Dengan satu fokus, maka seluruh potensi dapat diarahkan dan didayagunakan seoptimal mungkin selain mengingat anggaran pemerintah, fasilitas, dan sumber daya manusia yang terbatas.

Artikel Ilmiah Populer ini Telah diterbitkan di Suara Merdeka 27 Januari 2009