TEKNOLOGI BUDIDAYA IKAN HIAS 3

III. IKAN HIAS

3.1 Silver Dollar (Metynnis schreltmuellerl)

Ikan silver dollar merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi bukan hanya sebagai komoditi lokal, tetapi juga merupakan komoditi ekspor, sehingga ikan ini mempunyai potensi yang tinggi untuk dikembangkan sebagai ikan komersial.

Permasalahan yang timbul dalam pengembangan ikan ini diantaranya adalah penyediaan benih masih sulit. Salah satu penyebab sulitnya penyediaan benih ini adalah masih sulitnya ikan ini dipijahkan dalam wadah budidaya, derajat penetasan dan kelangsungan hidup larva rendah. Salah satu cara yang telah  dilakukan untuk menanggulangi permasalah tersebut adalah pemijahan secra buatan dengan rangsangan hormonal. Cara tersebut akan diterangkan secara detail pada pembahasan berikut.

 

3.1.1 Deskripsi Ikan Silver Dollar

Ikan silver merupakan ikan introduksi yang didatangkan dari sungai amazon, amerika Selatan. Ikan ini termasuk kedalam famili Characidae. Bentuk badannya pipih dan panjangnya dapat mencapai 15 cm. Warna badan dan perutnya perak mengkilap dan agak keabu-abuan pada bagian punggungnya.

Jenis kelamin ikan ini relatif mudah dibedakan setelah dewasa dengan melihat sirip analnya. Sirip anal ikan silver dollar betina agak meruncing dibagian depannya dan berwarna jingga cerah atau merah menyolok bila telah matang gonad. Sedangkan ikan jantannya memiliki sirip anal yang bundar dibagian depannya dan berwarna jingga jika telah matang gonad, tetapi warna ini kurang mencolok dibandingkan dengan betinanya.

Ikan ini termasuk herbivora, memakan daun-dauanan seperti selada air dan tanaman air lainnya yang berdaun lunak. Ikan silver dollar sudah dapat dipijahkan pada pH air 6.8-7.0 dengan suhu air 26-30 oC.

 

3.1.2 Pemeliharaan Induk

Pemijahan induk silver dollar jantan dan betina dilakukan secara terpisah dalam akuarium kaca yang berukuran cm yang ditempatkan pada ruangan tertutup. Pemeliharaan secara terpisah ini dimaksudkan agar ikan dapat matang gonad serentak dan tidak terjadi pemijahan liar yang tidak dikehendaki. Akuarium tempat pemeliharaan induk diisi air setinggi 35 cm serta diberi aerasi. Dalam satua kuarium dimasukkan  sekitar 10 ekor induk. Untuk menjaga kualitas air pemeliharaan induk dilakukan pergantian air dua hari sekali sebanyak ¼ bagian atau tergantung kebutuhan.

Pemberian makanan kepada induk dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari berupa larva Chironomus (chu merah) beku atau segar, atau cacing rambut yang diselingi dengan memberikan selada air. Induk ikan dipelihara hingga matang gonad atau siap dipijahkan.

Induk ikan silver dollar yang matang gonad dapat dilihat dari penampakan tepi sirip ekor yang berwarna merah tua kehitaman, operkulum (tutup insang) berwarna kemerahan, dan pada badan tepat dibelakang tutup insang terdapat dua bintik hitam. Bila induk betina kelihatan perutnya yang membesar (gendut).

Pemijahan ikan silver dollar dapat dilakukan secara alami, akan tetapi waktu terjadinya pemijahan tidak dapat diprediksi dengan baik sehingga relatif sulit untuk menentukan target produksi benih. Oleh karena itu, pemijahan ikan silver dollar ini perlu dilakukan dengan rangsangan hormon. Seperti pada pemijahan dengan rangsangan hormonal yang dijelaskan sebelumnya, induk-induk silver dollar yang akan disuntik ditimbang dahulu untuk mengetahui beratnya dan kemudian menentukan banyaknya hormon yang harus disuntikkan. Hormon yang umum dipakai untuk merangsang pemijahan ikan silver dollar adalah ovaprim. Penggunaan ekstrak kelenjar hipofisa ikan mas untuk menyuntik ikan silver dollar jarang dipakai, karena ukuran ini relatif kecil sehingga sulit menentukan dosis yang diberikan.

Dosis yang diberikan pada ikan silver dollar dengan menggunakan ovaprim yakni memakai dosis 0,7 ml/ kg bobot ikan. Penimbangan ikan diperlukan untuk mengetahui dosis yang digunakan. Untuk bobot yang berbeda dapat menggunakan sistem konversi berdasarkan dosis yang ada.

Untuk mengurangi stres, sebelum dilakukan penyuntikan, sebaiknya ikan dibius terlebih dahulu dengan menggunakan MS-222 dengan konsentrasi sekitar 100 mg perliter air. Setelah ikan dibius, diangkat dan kemudian diletakkan diatas gabus busa tebal. Dengan hati-hati ikan disuntik dibagian daging pungggung yang paling tebal. Diusahakan menggunakan jarum suntik yang paling kecil.

Setelah penyuntikan selesai, ikan dikembalikan lagi ke wadah pemijahan. Wadah pemijahan dapat berupa akuarium dengan ukuran  cm atau bak beton yang diisi air sedalam 25 cm dan diberi tanaman air Hydrilla. Kedalam setiap wadah dimasukkan sepasang induk jantan dan betina. Air dalam wadah pwmijahan dinaikkan tingginya menjadi 35 cm setelah dilakukan penyuntikan kedua.

 

3.1.3 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva/Benih

Setelah ikan memijah, ditandai dengan banyaknya telur yang tersebar didasar wadah pemijahan, kedua induk ikan diangkat dan dipindahkan kewadah pemeliharaan induk semula. Tanaman Hydrilla dalam akuarium juga diambil dan dibuang. Dan untuk mencegah serangan penyakit, kedalam wadah pemeliharaan induk yang selesai memijah ditambahkan 1-2 sendok garam dapur dan Methylene Blue 1 mg/l.

Telur-telur didalam wadah pemijahan dapat dibiarkan menetas diwadah tersebut, tetapi dapat juga dipindahkan atau disatukan kedalam wadah khusus untuk penetasan telur. Cara memindahkan telur harus dilakukan secara hati-hati agar telur tidak rusak. Pengambilan telur dari wadah pemijahan dapat dilakukan dengan menyiponya dengan selang dan telur yang keluar ditampung di baskon, kemudian telur-telur tersebut dimasukkan ke wadah penetasan.

Kualitas air penetasan tetap dijaga dengan cara mengganti airnya sebanyak 30% setiap hari. Bila telur-telur sudah menetas (sekitar 50-70 jam setelah pemijahan) dilakukan penyiponan terhadap telur-telur yang tidak berhasil menetas untuk menjaga kualitas air tetap baik.

Pemberian pakan kepada larva dilakukan setelah larva berumur 4 hari. Pakan yang diberikan ke larva berupa nauplii Artemia yang baru menetas. Frekuensi pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari, pagi, siang dan sore hari. Setelahg benih agak besar, pakan yang diberikan berupa cacing rambut atau kutu air sampai ikan akan dijual.

Selama pendederan ikan dapat dilakukan penjarangan kepadatan agar pertumbuhannya tidak terhambat. Pendederan ikan dilakukan di wadah yang lebih besar seperti akuarium berukuran cm atau bak beton  cm.

3.2 Ikan Cupang (Betta splendens)

Ikan cupang atau ikan betta yang banyak diminati adalah ikan jantannya, karena keindahan warna badan dan sirip-sirip, serta tingkah lakunya yang agresif. Harga ikan jantan pun jauh lebih mahal dengan ikan betinanya. Oleh karena itu, secara ekonomis, lebih menguntungkan memelihara ikan cupang jantan. Dengan demikian diperlukan suatu tehnik yang dapat digunakan untuk menghasilkan ikan cupang jantan yang banyak atau semuanya jantan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan teknik seks reversal menggunakan hormon yang akan dijelaskan lebih lanjut.

 

 

 

 

 

 

Selain perbedaan harga cupang diakibatkan oleh perbedaan jenis kelamin, juga diakibatkan oleh perbedaan strain/varietas, seperti ikan cupang strain merah (cupang api) jauh lebih mahal  harganya dibandingkan dengan ikan cupang lokal yang berwarna merah-biru. Namun demikian ternyata harga ikan cupang api yang mahal tersebut berhubungan dengan relatif lebih sulit memelihara atau memijahkannya dari pada ikan lokal.

3.2.1 Deskripsi Ikan Cupang

Ikan cupang merupakan salah satu ikan hias yang mempunyai alat pernapasan tambahan berupa labirin. Dengan bantuan alat tersebut, ikan ini dapat mengambil oksigen langsung dari udara. Dengan demikian dalam pemeliharaan ikan cupang, aerasi tidak harus dipasang sehingga dapat menghemat penggunaan listrik dan sarana sistem aerasi.

Daya tarik lain dari ikan cupang adalah keindahan warna dan sirip-siripnya, terutama ikan cupang jantan. Ikan ini juga senang berkelahi terhadap sesamanya sehingga dijuluki “fighting fish”, tetapi bersikap toleran terhadap ikan jenis lain. Toleransi ikan cupang terhadap temperatur berkisar antara 24-29 oC. Pertumbuhannya ikan cupang relatif cepat sehingga masa pembesarannya tidak terlalu lama ke waktu penjualannya.

 

3.2.2 Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk ikan cupang dilakukan secara terpisah antar ikan jantan dan betinya, dan juga antar ikan jantan. Pemisahan antar ikan jantan dimaksudkan agar tidak saling berkelahi yang dapat merusak kondisi induk atau bahkan mati. Pemeliharaan induk jantan ini dilakukan dibotol-botol air minum bekas atau dalam akuarium kecil berukuran  cm, sedangkan induk betina dipelihara secara massal atau bersama-sama didalam akuarium atau bak yang lebih besar, berukuran  cm atau  cm.

Selama pemeliharaan, induk ikan cupang diberi makan “chu merah” (larva Chironomus) hidup atau beku, atau dengan jentik nyamuk, dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari.

 

3.2.3 Pemijahan

Induk betina yang sudah matang gonad ditandai dengan perut yang genduk dan agak transparan sehingga telur nampak di dalam perut. Sedangkan induk jantan biasanya selalu siap untuk dipijahkan atau dapat matang gonad setiap saat.

Pemijahan ikan cupang dilakukan secara alami dan berpasangan di dalam akuarium berukuran  cm. Yang pertama dimasukkan kedalam akuarium adalah induk jantan, sementara induk betina dimasukkan dahulu ke dalam botol air minum bekas atau kantong plastik dan selanjutnya dimasukkan kedalam akuarium tempat ikan jantan. Pemisahan ini dimaksudkan agar induk jantan terangsang untuk membuat busa atau agar induk betina tidak menggangu induk jantan membuat sarang busa. Ke dalam akuarium pemijahan juga dimasukkan selembar daun eceng gondok sebagai tempat menempelkan busa dari ikan jantan sehingga busanya tidak berantakan.

Setelah induk jantan membuat busa dan induk betina memperlihatkan tanda-tanda siap memijah (ikan betina berenang didalam botol mengikuti arah gerakan ikan jantan), induk betina dicampurkan dengan jantannya. Bila kedua induk benar-benar siap memijah, akan memijah beberapa saat setelah dicampur. Namun bila ikan tidak memijah pada hari pertama, biarkan hingga hari ketiga. Kemudian, kalau ikan tetap tidak memijah, pisahkan terlebih dahulu dan pelihara kembali.

3.2.4 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva/Benih

Penanganan telur ikan cupang hasil pemijahan ada dua macam, yaitu telur-telur tersebut diasuh oleh induk jantan dan tidak diasuh atau telur dibiarkan menetas sendiri. Kedua cara tersebut tidak memberikan hasil (jumlah telur yang menetas) yang berbeda. Tetapi, cara membiarkan telur menetas sendiri lebih aman dari pemangsaaan induk jantan yang tidak mau mengasuh dan induk jantan tersebut dapat cepat pulih dan matang gonad sehingga bisa dikawinkan lagi.

Bila dipilih cara kedua, maka kedua induk dari pasangan ikan yang sudah memijah diangkat dan dimasukkan kedalam wadah pemeliharaan semula. Induk (terutana induk betina) yang selesai memijah biasanya mengalami luka-luka dibadannya sehingga perlu diobati atau mencegah adanya serangan penyakit dengan memberikan Methylene Blue sebanyak 2 mg/l air wadah pemeliharaan. Apabila tersedia antibiotik seperti oksitetrasiklin atau kanamisin, terkadang juga perlu ditambahkan kedalam wadah pemeliharaan induk untuk mencegah serangan bakteri.

Ke dalam akuarium yang berisi telur ditambahkan larutan Methylene Blue 0,5 mg/l air akuarium untuk mencegah seranmgan jamur. Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor induk betina (tergantung kualitas dan besanya induk) berkisar antara 1000-2000 butir. Telur ikian cupang akan menetas 24-48 jam setelah pemijahan (suhu air 25-27 0C).

Pada saat cadangan makanan larva berupa kuning telur (yolk sack) akan habis, biasanya pada hari ketiga setelah menetas, larva diberi makan suspensi kuning telur ayam rebus atau dengan infusoria (sebangsa protozoa). Setelah benih ikan bertambah besar, pakan yang diberikan berupa naupli Artemia sampai ikan dapat  memakan cacing rambut atau kutu air.

Penjarangan kepadatan ikan atau pemindahan ke wadah yang lebih besar perlu dilakukan apabila pada wadah pertama terlalu padat. Hal ini dimaksudkan agar pertumbuhan ikan tidak terhambat. Kegiatan ini biasanya dilakukan setelah ikan berumur satu bulan. Sedangkan setelah ikan berumur 2 bulan, perlu dilakukan penyortiran jenis kelamin untuk mencegah ikan-ikan jantan berkelahi, dan setiap ikan jantan hasil seleksi tersebut dimasukkan kedalam wadah yang terpisah. Wadah ikan jantan dapat berupa potongan botol-botol air minum bekas. Pemberian pakan tetap dilakukan tiga kali sehari. Dan untuk menjaga kualitas air, dilakukan penyiphonan kotoran ikan dan selanjutnya air diganti 1/3 bagian volume air wadah.

 

3.2.5 Cara Memproduksi Ikan Cupang Jantan yang Banyak

Seperti mahluk hidup lainnya, secara alami jenis kelamin ikan sudah ditentukan pada saat pembuahan telur terjadi. Namun demikian, pada ikan terdapat suatu fase yang labil dimana jenis kelamin masih bisa diarahkan menjadi betina atau jantan. Jenis kelamin yang diinginkan berhubungan dengan adanya perbedaan karakter atau sifat antara ikan jantan dan betina. Perbedaaan karakter tersebut dapat berupa kecepatan tumbuh dan penampilan tubuh seperti warna dan panjang sirip ikan. Perbedaan karakter tersebut biasanya berhubungan dengan aspek ekonomi sehingga akan lebih menguntungkan apabila memelihara ikan dengan satu jenis kelamin yang menguntungkan tersebut.

Tehnik pengarahan jenis kelamin ini dikenal dengan istilah sex reversal. Tehnik sex reversal sudah berhasil diaplikasikan kebeberapa jenis ikan seperti ikan mas dan beberapa jenis ikan hias seperti ikan cupang, kongo tetra dan ikan gapi.

Pengarahan jenis kelamin ikan cupang kearah jantan dilakukan dengan menggunakan hormon androgen 17 α-methyltestosteron. Dosis hormon yang digunakan adalah 20 mg/l air perendaman. Pembuatan larutan hormon 20 mg/l dilakukan dengan cara melarutkan hormon sebanyak 20 mg, kemudian dilaritkan dalam 1 ml alkohol 70%, dan selanjutnya dimasukkan kedalam air yang akan dipakai merendam sebanyak 1 liter. Air yang telah diberi hormon diaerasi beberapa saat sebelum dilakukan perendaman. Hal ini dilakukan untuk meratakan hormon dalam air dan membantu penguapan alkohol.

Perendaman dalam larutan hormon dilakukan terhadap telur (embrio) fase bintik mata yang terjadi sekitar 30 jam setelah pemijahan. Banyaknya telur yang direndam dalam setiap liter air berhormon berkisar antara 3000-5000 butir. Wadah yang digunakan untuk perendaman sebaiknya yang memiliki dasar yang lebar agar pemanfaatan hormon dalam air semaksimal mungkin. Untuk memudahkan pengambilan telur-telur setelah diberi perlakuan hormon, telur-telur tersebut bisa dimasukkan kedalam saringan teh yang halus sebelum dimasukkan kedalam wadah perendaman. Lama perendaman untuk ikan cupang adalah 8 jam.

Penanganan larva ikan hasil perlakuan hormon dilakukan seperti pada larva yang tidak diberi perlakuan. Perkembangan ikan perlakuan juga sama seperti dengan ikan biasa.

 

3.3. Ikan Gapi (Poecilia reticulata)

Seperti halnya dengan ikan cupang, ikan gapi yang banyak diminati dan harganya lebih mahal adalah ikan jantannya, karena memiliki warna dan sirip yang panjang dan bervariasi. Kenyataan tersebut membuat petani lebih senang memelihara ikan gapi jantan karena akan lebih menguntungkan dari segi ekonomi. Di pasaran, terdapat beberapa strain gapi dengan warna dan sirip yang berbeda-beda.

Perbedaan harga antara ikan gapi jantan dan betina tersebut menuntut adanya usaha yang bisa dilakukan untuk menghasilkan ikan jantan yang banyak atau semuanya. Cara yang biasa dilakukan akan di jelaskan lebih lanjut.

 

3.3.1 Deskripsi Ikan Gapi

Ikan gapi memiliki nilai ekonomis tinggi karena variasi warna yang dimilikinya menarik dan bentuk sirip yang beragam, pemeliharaan dan pemijahan mudah, serta tidak terlalu berpengaruh pada perubahan temperatur dan kualitar air lainnya. Saat ini terdapat sekitar 30 jenis ikan gapi berdasarkan pola warna dan   bentuk siripnya, yang sebagian besar merupakan komoditi ekspor.

Dari penampakan morfologis, ikan gapi jantan memiliki bentuk dan corak warna tubuh lebih menarik dan cemerlang daripada ikan betinanya. Ikan gapi memiliki kemampuan berkembang biak yang cepat sehingga harus segera dipisahkan agar tidak terjadi perkawinan pada usia muda yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas anak yang dihasilkan.

Ikan gapi bersifat ovovivipar, yaitu pembuahan terjadi di dalam tubuh, embrio disimpan dan terus berkembang dalam tubuh induk, akan dilahirkan sebagai anak setelah kurang lebih 20 hari masa kehamilan. Ikan betina mampu menyimpan sperma dalam tubuhnya sehingga dari satu kali perkawinan dapat melahirkan sampai tiga kali dengan jarak waktu antar kehamilan 7-43 hari, dengan selang waktu antara melahirkan anak dengan pemisahan induk betina dari jantannya berkisar 16-35 hari.

 

3.3.2 Pemeliharaan Induk

Calon induk ikan gapi dapat diperoleh setelah ikan berumur 4 bulan. Untuk menyetarakan perkawinan masa pemeliharaan induk dilakukan di wadah terpisah. Makanan yang diberikan berupa larva Chironomus (chu merah) dan Daphnia (kutu air), yang diberikan dua kali sehari. Pergantian air dilakukan 2-3 hari sekali sebanyak 20-30% volume wadah pemeliharaan.

 

3.3.3 Pemijahan

Ikan gapi dapat dikawinkan baik secara berpasangan maupun secara massal dengan perbandingan antara induk jantan dan betina 1:1. karena perkawinan ikan gapi secara massal belum tentu terjadi semua pada hari pertama setelah dicampurkan, maka biasanya lama pencampuran 4-7 hari. Pada umumnya selama waktu tersebut ikan gapi sudah kawin sehingga ikan betina dapat dipisahkan dari induk jantannya agar tidak terganggu oleh induk jantan. Induk betina yang sudah kawin tersebut dipelihara diwadah akuarium berukuran  cm atau di bak yang diberi aerasi.

Setelah dua minggu dari waktu pemisahan induk, sudah dapat diketahui induk betina yang hamil dengan cara melihat adanya daerah gelap pada bagian belakang sirip anal dan perutnya sedikit membengkak. Induk ikan yang tidak hamil diambil dan dimasukkan kedalam wadah pemeliharaan induk, sementara induk yang hamil dibiarkan disatukan atau disatukan ke wadah yang lain.

 

3.3.4 Pemeliharaan dan Pendederan Anak Gapi

Jumlah anak gapi dari setiap kelahiran berkisar antara 50-200 ekor dengan perbandingan jenis kelamin sekitar 1:1. Anak ikan gapi yang lahir dipisah dari induk agar tidak terjadi persaingan dalam mendapatkan makanan. Selain itu, agar induk tersebut mendapatkan makanan yang cukup sehingga kehamilan keduanya dapat menghasilkan anak dengan jumlah yang maksimal.

Anak ikan yang baru lahir belum membutuhkan makanan. Setelah berumur satu hari, anak ikan diberi makan naupli Artemia atau kutu air yang kecil. Pemeliharaan anak ikan gapi sebaiknya di ruangan yang bisa terkena sinar matahari agar warnanya cemerlang. Wadah pemeliharaan anak ikan dapat berupa bak beton atau bak plastik yang cukup luas yang dilengkapi dengan sistem aerasi. Pergantian air dilakukan setiap dua hari sekali sebanyak 20-30% volume wadah pemeliharaan.

Seleksi jenis kelamin dapat dilakukan setelah anak ikan gapi berumur satu bulan dengan cara melihat ciri kelamin sekundernya seperti sirip ekor lebih panjang, warna lebih bagus dan sirip anal yang runcing. Sebagian besar anak ikan betina yang dihasilkan bisa dijual atau dibuang dan sisanya dapat dipelihara lebih lanjut untuk dijadikan calon induk.

 

3.3.5 Cara Menghasilkan Anak Gapi Semua Jantan

Tehnik yang bisa digunakan untuk menghasilkan semua ikan gapi jantan adalah dengan mengarahkan diferensiasi kelaminnya menggunakan hormon jantan (androgen) seperti 17a-methyltestosteron. Karena ikan gapi ini melahirkan anak dan diferensiasi kelaminnya terjadi pada saat masih didalam perut induknya, maka pemberian hormon yang dilakukan pada saat induk hamil. Dosis hormon yang diberikan adalah 2 mg/l air perendaman dengan lama perendaman 24 jam. Cara pembuatan larutan hormon sama seperti pembuatan larutan hormon pada ikan cupang, yaitu hormon dilarutkan terlebih dahulu dengan alkohol 70% dan selanjutnya dicampurkan dengan air yang akan dipakai merendam. Pada setiap satu liter air yang sudah diberi hormon dapat merendam 3 ekor induk yang sudah hamil, baik pada hamil pertama maupun pada hamil kedua. Perendaman pada saat hamil pertama dilakukan setelah 14 hari dari waktu pemisahan antara induk jantan dan betina, sedangkan perendaman hamil kedua dilakukan setelah 14 hari dari waktu melahirkan pertama. Selama kegiatan perendaman, kedalam air perendaman ikan tetap diberi aerasi.  Jumlah anak yang dihasilkan dari perlakuan tidak berbeda atau sama dengan ikan yang tidak diberi hormon, dan anak yang dihasilkan dapat semua jantan (100%).

3.4. Ikan Kongo Tetra (Micralestes interruptus)

3.4.1 Deskripsi Ikan Kongo Tetra

Ikan kongo tetra termasuk ke dalam famili Characidae dan berasal dari Afrika. Ikan ini merupakan salah satu jenis ikan hias yang mudah berkembang biak. Seperti halnya dengan ikan gapi dan cupang, ikan kongo tetra jantan lebih mahal dibandingkan dengan betinanya, karena ikan jantan lebih menarik dengan adanya sirip punggung yang memanjang menyerupai rumbai-rumbai yang bisa sampai menyentuh sirip ekor. Di bawah cahaya lampu, ikan jantan juga biasanya memancarkan cahaya yang berwarna emas dan turquoise. Ikan ini hidup dengan baik di lingkungan dengan temperatur 25-27oC.

 

 

 

Perbedaan harga antara ikan jantan dan ikan betina tersebut mendorong petani berusaha menghasilkan ikan jantan lebih banyak atau semuanya jantan. Akan tetapi secara konvensional, untuk tujuan tersebut petani harus menambah jumlah induk ikan yang tentunya akan diikuti dengan kenaikan biaya produksi. Tehnologi yang bisa digunakan untuk menghasilkan semua ikan kongo jantan adalah sex reversal dengan menggunakan hormon androgen, 17-methyltestosteron, yang akan di bahas lebih lanjut.

 

3.4.2 Pemeliharaan Induk

Seperti pada ikan hias lainnya, pemeliharaan calon induk ikan kongo untuk pematangan gonadnya dilakukan dalam akuarium yang terpisah. Pakan yang bagus untuk pematangan gonad adalah chu merah beku atau segar, dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari sampai ikan kenyang. Dan untuk menjaga kualitas air, setiap hari dilakukan penyiponan terhadap kotoran ikan dan sisa makanan yang tidak termakan, kemudian air diganti sebanyak 30% dari volume air akuarium.

 

 

3.4.3 Pemijahan

Pemijahan ikan kongo tetra sebaiknya dilakukan secara massal dengan perbandingan jenis kelamin ikan jantan dan betina 3:5. induk matang gonad yang ditandai dengan perut gendut, dimasukkaqn kedalam akuarium pemijahan berukuran  cm. Pada umumnya induk jantan selalu siap dikawinkan sehingga pemilihan induk hanya dilihat dari keseragaman besarnya dengan harapan kualitasnya akan sama.

Ke dalam akuarium pemijahan dimasukkan pula 4-5 eceng gondok sebagai substrat pemijahan. Disela-sela akar eceng gondok biasanya banyak telur ikan meskipun sebenarnya telur-telur tersebut tidak menempel sehingga pada saat eceng gondok digoyang goyangkan, telur-telur akan jatuh kedasar akuarium. Telur-telur yang ada didasar akuarium disiphon dengan selang sipon secara hati-hati agar telur tidak rusak, kemudian telur-telur tersebut dipindahkan kedalam akuarium penetasan.

Induk-induk yang berada di akuarium yang memiliki telur tetap dibiarkan dan dipelihara dengan pemberian pakan dan pergantian air seperti biasa. Setelah dilakukan pemanenan telur sebanyak 4-5 kali (untuk pemijahan dengan induk betina sebanyak 20 ekor), induk ikan kongo jantan diganti dengan induk jantan yang baru. Ikan jantan yang sudah digunakan untuk pemijahan tersebut dipelihara dalam akuarium pematangan untuk dimatangkan lagi. Demikian juga halnya dengan induk betina yang sudah memijah ditandai dengan perut menjadi ramping (kempes) diambil dan diganti dengan betina yang baru.

 

 

3.4.4 Penetasan Telur dan Pendederan Larva/Benih

Penetasan telur dilakukan pada akuarium yang terpisah dari akuarium pemijahan. Telur yang telah dikumpulkan kedalam akuarium penetasan ditambahkan Methylene Blue 1 mg/l air akuarium untuk mencegah serangan jamur.

Makanan untuk larva mulai diberikan pada saat cadangan makanannya berupa kuning telur mulai habis. Makanan yang diberikan berupa naupli Artemia sampai ikan berumur 2 minggu, kemudian diberi cacing rambut atau kutu air. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari. Untuki menjaga kualitas air dilakukan penyiponan setiap hari dan pergantian air kurang lebih 30% volume air akuarium penetasan. Air yang dipergunakan adalah air tandon tang telah disiapkan sehari sebelumnya. Setelah ikan berumur satu bulan, kepadatannya dijarangkan agar pertumbuhan ikan tidak terhambat.

 

3.4.5 Cara Memproduksi Ikan Kongo Tetra Jantan yang Banyak

Untuk menghasilkan ikan jantan yang banyak dari setiap siklus produksi dapat dilakukan dengan cara diferensiasi kelamin dengan menggunakan hormon. Pada ikan kongo tetra telah berhasil dilakukan pengarahan kelamin menjadi jantan dengan menggunakan hormon 17 mehyltestoteron dengan dosis 25 mg/l selama 8 jam melalui perendaman telur pada saat bintik mata yang terjadi sekitar 50 jam setelah pemijahan. Jumlah telur yang direndam sebanyal 1000-2000 butir per liter air berhormon. Selam perendaman, aerasi tetap diberikan. Setelah waktu perendaman selesai. Air berhormon dibuang dan diganti dengan air yang baru air tandon. Cara pemeliharaan ikan selanjutnya seperti pada pemeliharaan ikan normal ( ikan yang tidak diberi perlakuan hormon).

 

3.5. Ikan Green Tiger (Puntius tetrazona)

Ikan green tiger atau “The most green tiger barb fish” adalah salah satu jenis ikan air tawar yang unik. Keunikan ikan ini dilihat dari pola warna dan pola garisnya. Pola warna yang tampak adalah warna hitam, hijau dan albino. Sedangkan pola garis yang tampak adalah “green tiger” dengan bar di badan berwarna hijau atau hitam yang luasannya besar, dan pola sumatera dengan 4 bar kecil.

Pada keturunan generasi pertama hasil perkawinan antara sumetera dan green tiger didapat pola garis sumatera dan pola garis green tiger, sedangkan pola warna yang tampak adalah hitam, hijau dan albino. Pada generasi kedua dari perkawinan antara green tiger dengan green tiger diperoleh pola warna dan garis yang sama dengan generasi pertama. Perkawinan antar jenis ikan sumatera akan menghasilkan semuanya ikan sumatera.

 

3.5.1. Deskripsi Ikan Green Tiger

Ikan green tiger dikenal dengan “The most green tiger barb fish” merupakan hasil mutasi dari jenis sumatera. Ikan ini memiliki sisik berwarna hijau dan hitam dengan pola yang khas pada sisi tubuhnya. Ujung sirip punggung dan sirip analnya berwarna merah kehitaman, sedangkan sirip lainnya berwarna kemerahan transparan.

3.5.2. Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk green tiger dilakukan ditangki fiber atau bak beton. Pemeliharaan induk jantan dan betina dilakukan secara terpisah. Bak beton yang digunakan berukuran  cm dengan ketinggian air 35 cm. Pakan yang diberikan pada pemeliharaan induk ini adalah cacing rambut, atau kutu air dengan frekuensi pemberian dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Sedangkan penggantian air dilakukan 2 hari sekali sebanyak 30% dari volume wadah.

 

3.5.3 Pemijahan

Pemijahan ikan green tiger dilakukan didalam akuarium berukuran  cm dengan ketinggian air 15 cm yang diaerasi terusa menerus dengan kekuatan sedang. Sebagai spawning ground digunakan eceng gondok yang sekaligus berfungsi sebagi pelindung telur-telur dari pemangsaan induknya setelah pemijahan dan juga merupakan tempat persembunyian induk betina dari kejaran induk jantan setelah pemijahan selesai. Untuk mencegah agar induk tidak memakan telurnya dapat dibuatkan trap/penghalang yang dipasang beberapa senrimeter diatas dasar akuarium. Trap tersebut dapat dibuat dari jaring hapa bekar yang diberi rangka sesuai dengan ukuran akuarium.

Induk jantan dimasukkan keakuarium terlebih dahulu untuk memberi kesempatan bagi induk jantan menguasai lingkungan pemijahan. Setelah pemijahan selesai kedua induk segera diangkat dari akuarium pemijahan.

 

 

 

3.5.4 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva/Benih

Setelah kedua induk ikan diangkat, telur-telur dibiarkan menetas didalam akuarium pemijahan tersebut. Untuk mencegah serangan jamur, kedalam akuarium penetasan ditambahkan Methylene Blue 1 mg/l air.

Larva ikan baru diberi makan setelah berumur 4 hari berupa nauplii Artemia yang baru menetas, kemudian secara bertahap diberi kutu air dan cacing rambut. Larva ikan yang baru menetas sampai berumur kurang lebih 15 hari tetap dipelihara dalam akuarium pemijahan, selanjutnya ikan dapat didederkan di bak beton atau kolam dan sawah yang sudah dipupuk sehingga tumbuh banyak makanan alami.

 

3.6. Ikan Head Stander (Chilodus punctatus)

3.6.1. Deskripsi Ikan Headstander

ikan ini dinamakan ikan head tander karena kepalanya selalu kebawah. Ikan headstander termasuk kedalam famili alestidae. Tubuhnya dipenuhi bercak-bercak berwarna coklat. Panjang tubuh mencapai 3.5 cm

Perbedaan morfologi antara jantan dan betina sukar terlihat karena tidak ada beda ciri morfologisnya. Sedikit perbedaan yang ada terletak pada tubuh betina ynag tampak lebih gendut pada saat matang gonad. Ikan ini mulai matang gonad pada umur 4 bulan.

 

 

3.6.2 Pemijahan

Pemijahan ikan headstander dilakukan di dalam akuarium berukuran  cm dan diberi aerasi. Pemijahan berlangsung secara massal dan terus-menerus dengan jumlah jantan sebanyak dua ekor dan betina tiga ekor setiap akuarium. Kedalam akuarium pemijahan dimasukkan serabut tali rafia yang diikatkan dengan pemberat dan diletakkkan di dasar akuarium sebagai media peletakan telur. Apabila dalam selang waktu dua minggu tidak ada induk yang memijah, maka induk dipisahkan selama kurang lebih i minggu untuk pematangan gonad.

Pengontrolan telur dilakukan sampai lima kali dalam sehari karena telur tidak dikeluarkan sekaligus. Pengambilan telur dengan cara menyiphonnya. Sisa-sisa telur tersebut dimasukkan kedalam akuarium penetasan.

Penyiponan sisa makanan dan kotoran dilakukan setiap hari dan penggantian air sebanyak 30% dua hari sekali. Makanan untuk induk diberikan berupa cacing rambut, dan chu merah segar atau beku.

 

3.6.3. Penetasan Telur

Akuarium penetasan yang digunakan berukuran 30x30x20 cm. Sebelum digunakan, akuarium tersebut terlebih dahulu dibersihkan. Air yang digunakan untuk penetasan telur sudah disiapkan dua hari sebelum dipasang. Untuk mencegah serangan jamur, kedalam akuarium penetasan ditambahkan Methylene Blue sebanyak 1 mg/l air. Bila ruangan terlalu terang, wadah penetasan ditutupi dengan plastik hitam untuk mengurangti intensitas cahaya. Inkubasi telur dilakukan selam 4-5 hari.

 

3.6.4 Pendederan dan Pembesaran

Sehari setelah menetas, larva dipindahkan keakuarium pendederan berukluran cm yang diisi air setinggi 25 cm. Setelah larva berumur 3 hari, diberi pakan verupa naupli Artemia dengan frekuensi pemberian pakan 2-3 kali sehari. Penyiponan sisa-sia makanan dan kotoran dilakukan setiap hari. Pergantian air sebanyak 20-30% dilakukan setelah ikan berumur 10 hari.

Setelah berumur 1 bulan, dilakukan penjarangan ikan dengan kepadatan setiap akuarium sekitar 100 ekor. Diusahakan didalam akuarium ikannya berukuran seragam. Apabila benih sudah mencapai ukuran 1 inchi, makanan diberikan berupa kutu air dan cacing rambut. Pergantian air dilakukan sebanyak 20-30% setiap hari.

Kegiatan pembesaran dilakukan dibak beton atai tangki fiber volume 1 m3. didalam setiap bak diisi ikan sebanyak 500-1000 ekor. Pakan yang diberikan berupa kutu air dan cacing rambut. Pergantian air tetap dilakukan setiap hari sebanyak 20-30%. Biasanya ikan headstander akan di jual setelah berumur 4 bulan.

3.7. Ikan Black Ghost (Apteronotus albifrons)

3.7.1 Deskripsi Ikan Black Ghost

Black ghost mempunyai tubuh yang berwarna biru kearah ungu tua hingga kehitaman dan kadang-kadang terlihat hitam pekat. Ciri fisik lainnya adalah terdapat beberapa goresan atau garis putih pada bagian ekornya dan garis putih dari dahi hingga dagu.

Bentuk tubuh black ghost seperti pipih, di alam panjangnya dapat mencapai 48 cm. Ikan ini memiliki keunikan yaitu ditandai dengan bersatunya sirip dada dan sirip perut. Sirip yang menyatu ini memanjang dari dada hingga pangkal ekor. Pada saat berenang atau ada aliran air, sirip ini berkibar-kibar sehingga memiliki daya tarik tersendiri. Selain itu ikan black ghost mempunyai organ-organ yang mengandung listrik. Diduga organ ini berfungsi sebagai alat komunikasi, mempertahankan diri atau mengetahui letaknya makanan.

Black ghost akan berkembang baik pada suhu 26oC, pH 6.6 , namun masih tumbuh dan berkembang dengan  baik pada pH 6-7.

 

3.7.2 Pemijahan

Pemijahan ikan black ghost biasanya menggunakan sistem massal dengan perbandingan jantan dan betina 2:3. Wadah yang digunakan dapat berupa akuarium yang berukuran  cm dengan induk sebanyak 5-7 ekor dan kolam beton yang berukuran  m dapat diisi induk 20 ekor.

Untuk membedakan jenis kelamin induknya dapat dilihat secara fisik. Induk jantan dagunya biasanya panjang dan rata (lurus) dan panjangnya panjang, sedangkan induk betina dagunya biasanya pendek, gemuk dan lebih besar jika dibandingkan ikan jantan, sedangkan badannya pendek dan gemuk. Pakan yang baik untuk induk black ghost yakni cuk merah hidup atau beku atau yang paling baik adalah jentik nyamuk. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari dan pengontrolan kualitas air sebaiknya pada wadah pemijahan diletakkan filter untuk menjaga kebersihan air.

Pemijahan ikan black ghost memerlukan substrat biasanya yang digunakan adalah akar pakis, perlu diperhatikan agar pakis yang digunakan sebaiknya benar-benar bersih dan bebas dari penyakit. Pemijahan dilakukan pada sore hari dengan meletakkan akar pakis diantara dua pemberat misalnya menggunakan kaca atau pecahan keramik. Ikan betina akan meyemburkan telurnya ke dalam substrat, kemudian diikuti oleh jantannya yang menyemprotkan sperma. Pada pagi harinya akar pakis dapat dilihat terdapat telur-telur yang menempel. Setelah bertelur akar pakis dipindahkan kedalam akuarium penetasan yang telah ditambahkan Methylene Blue sebanyak 2 mg/l air.

 

3.7.3. Pemeliharaan Larva/Benih

Dalam waktu 3-4 hari telur black ghost akan menetas, namun hanya telur yang fertil saja yang menetas, sementara telur steril berwarna putih susu dan tidak akan menetas. Larva black ghost yang baru menetas berwarna putih, dengan bertambahnya umur akan berubah menjadi hitam. Perubahan warna ini juga diikuti oleh menghilangnya lendir dari tubuh black ghost.

Black ghost yang sudah menetas dapat diberi pakan nauplii Artemia kemudian Daphnia atau kutu air, selanjutnya anakan dapat diberikan cacing sutra. Pemeliharaan kualitas air  dijaga agar tetap stabil. Penyiphonan dapat dilakukan dengan mengganti 30% air akuarium. Pemberian termostat juga diperlukan untuk menjaga agar suhunya stabil karena ikan black ghost akan mudah terserang white spot pada suhu yang rendah.

3.8. Ikan Red Nose (Hemigrammus rhodostomus)

3.8.1 Deskripsi Ikan Red Nose

Ikan Red nose merupakan ikan dari Amerika Selatan dengan tubuh pipih, panjang dan rampingdengan warna tubuh mengkilap keperakan. Ciri khas ikan ini adalah warna merah disekitar mulutnya sampai sebatas tutup insang. Pada ikan jantan, warna ikan terlihat lebih merah dan jelas dibandingkan dengan betinanya. Pada pangkal ekor terdapat tiga bercak hitam yang berselingan dengan warna putih. Ukuran tubuh betina lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan. Ikan ini senang berkelompok dan berenang aktif pada kolom air serta menyukai media hidup yang mempunyai intensitas matahari tinggi. Panjang tubuhnya dapat mencapai 5 cm dan mulai matang gonad pada betian pada umur 5 bulan.

3.8.2 Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk ikan red nose dilakukan di wadah terpisah. Wadah yang digunakan berupa akuarium berukuran cm. Pakan uyangh diberikan berupa chu merah beku atau hidup dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari. Pergantian air dilakukan setiap hari sebanyak 20%.

 

3.8.3 Pemijahan

3.8.3.1 Pemijahan Secara Masal

Pemijahan secara masal dilakukan dalam akuarium ukuran cm dengan jumlah 100 pasang induk. Induk dimasukkan pada sore hari secara bersamaan. Pada dasar akuarium dipasang breeding trap agar telur tidak dimakan induk. Breeding trap adalah saringan yang diberi bingkai yang luasnya sama dengan dasar akuarium pemijahan.

Ikan ini biasanya memijah pada malam hari menjelang pagi. Pagi hari sebaiknya dikontrol apakah induk telah memijah atau belum. Telur dapat terlihat dengan cara menyorotkan lampu neon dibawah akuarium. Apabila terlihat banyak telur segera pindahkan induk ke tempat lain. Telur dapat dipelihara diakuarium pemijahan atau dipindah ke akuarium penetasan dengan cara penyifonan.

3.8.3.2 Pemijahan Secara Berpasangan

Pemijahan secara berpasangan dilakukan dalam akuarium ukuran cm. Induk yang dipakai berjumlah 500 pasang, yang dibagi dalam beberapa kelompok pemijahan. Pada setiap kelompok pemijahan dikawinkan sebanyak 100 pasang dengan selang waktu pemijahan antar kelompok adalah satu minggu.  Air untuk pemijahan biasanya telah disiapkan beberapa hari sebelumnya. Sebagai media peletakan telur di beri eceng gondok yang telah dicuci bersih.

Dlam pemijahan ikan red nose betina dimasukkan terlebih dahulu, menyusul jantan. Biasanya ikan akan memijah pada pagi hari dan setiap induk akan menghasilkan sebanyak 200 butir telur. Pengontrolan telur dilakukan pada hari ke dua, ke tiga dan ke empat dari waktu pencampuran induk. Induk yang telah memijah, dipindahkann ke akuarium pemeliharaan induk.

3.8.4 Penetasan Telur.

Akuarium pemijahan sekaligus berfungsi sebagai wadah penetasan telur.Untuk mencegah pembusukan telur dan serangan jamur, maka ke dalam wadah ditambahkan Methylene Blue 1mg/l air. Telur akan menetas sekitar 18 jm setelah pemijahan. Pemeriksaan telur yang telah menetas atau belum dapat dilakukan dengan cara menggoyang-goyangkan eceng gondok secara perlahan. Pemeriksaan dapat dibantru dengan lampu senter, bila terdapat larva maka eceng gondok segera dipindahkan.

 

3.8.5 Pendederan

Larva yang baru menetas biasanya dipindahkan dan disatukan dalam akuarium yang lebih besar untuk didederkan. Akuarium yang digunakan berukuran cm. Cara memindahkan larva adalah dengan menuangkan akuarium pemijahan dalam akuarium pendederan. Cara lain dengan menyifon larva dengan selang kecil ke wadah berupa baskom, kemudian dituangkan ke akuarium pendederan. Tinggi air akuarium pendederan sekitar 35 cm.

Pemberian pakan ke larva berupa nauplii Artemia mulai dilakukan pada hari ke empat setelah menetas, dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari. Pergantian air dilakukan setelah larva berumur 10 hari sebanyak 10% dilakukan 3 hari sekali.

Setelah benih berumur 15 hari dapat dipindahkan ke tangki fiber volume 1000 liter yang disertai dengan peyortiran ukuran ikan. Ke dalam setiap tangki diisi ikan sebanyak 3000 sampai 4000 ekor. Kegiatan peyortiran dilakukan setiap 2 minggu. Benih diberi  pakan berupa kutu air (Daphnia, Moina), nauplii Artemia, dan cacing rambut sebanyak 3 kali sehari. Setelah benih mencapai ukuran 1 inchi atau sekitar 2,5 cm maka benih siap jual.

3.9. Ikan Lou Han (Cichlasoma spp)

Ikan lou han be;akangan ini menjadi tren di dunia ikan hias bail di Indonesia maupun Malaysia. Ikan silklid silangan ini dianggap bias membawa hoki bagi pemiliknya . Ikan ini akan menampakan keindahannya ketika berukuran diatas 10 cm. Tampilan mutiara dan marking yang hitam akan semakin bagus setalah ikan dewasa.

Ikan lou han pertama klai muncul dengan nama flower horn, yang kurang sukses dalam pemasarannya. Generasi kedua dikeluarkan ikan dengan nama hua lou han, yang juga kurang berhasil. Pada generasi ketiga dengan perbaikan mutu silangan maka dikenal dengan sekarang yang disebut lou han saja. Perkembangan jenis baru dari ikan ini sangant pesat, seperti cin hua, kamfa dan yang terakhir waktu tulisan ini dibuat adalah Raja merah dari Thailand.

 

 

3.9.1 Pemeliharaan Induk

Induk ikan lou han yang baik adalah telah berumur 1-2 tahun dengan ukuran untuk jantan adalah 25-30 cm dan betina 15-25 cm. Induk Lou han jantan ditandai dengan ukuran tubuh yang lebih besar dan jenong di kepala (horn) yang tampak besar. Induk di tempatkan dalam akuarium berukuran cm disekat tiga atau empat tergantung besarnya induk.

Induk di beri pakan cacing tanah, udang hidup, anak ikan mas, lele atau pakan buatan yang banyak dijual dengan frekuensi 3 kali sehari. Agar induk cepat matang gonad sebaiknya pemberian pakan yang mengandung gizi yang cukup perlu diperhatikan.     Pergantian air dilakukan sebanyak 50% dari volum air akuarium dengan cara penyifonan dan diganti air baru yang telah diendapkan dan di aerasi. Agar tidak terlalu sering menyifon dapat ditempatkan filter yang sesuai dengan akuarium yang digunakan.

3.9.2 Pemijahan

Induk lou han yang matang gonad di tandai dengan alat kelamin yang menonjol dan perut yang gendut pada induk betina. Pemijahan dilsakukan dalam akuarium berukuran cm yang disekat menjadi dua ruangan. Induk dimasukkan secara bersamaan agar saling mengenal. Induk yang telah jodoh ditandai dengan saling mendekati sekat dan apabila sekat telah diangkat induk tidak akan berkelahi.

Setelah induk jodoh di akuarium dapat diletakkan benda yang permukaannya licin seperti piring keramik. Induk akan memebersihkan permukaan benda tersebut setelah itu akan melakukan pemijahan diatasnya.. Setelah induk memijah segera pindahkan priring tadi ke tampat penetasan atau pindahkan induknya saja, sehingga akuarium pemijahan juga berfungsi sebagai akuarium penetasan.

 

3.9.3 Penetasan Telur

Telur lou han berbentuk oval dengan panjang sekitar 2 mm dan berwarna coklat bening. Telur yang dibuahi adalah yang berwarna bening sedangkan telur yang tidak dibuahi akan berwarna keruh. Telur akan menetas setelah 3-4 hari dengan suhu inkubasi  27 0C. Larva yang menetas akan berputar-putar disekitar tempat pemijahan. Kuning telur larva akan habis pada 3-5 hari setelah penetasan dan membutuhkan pakan dari luar.

 

3.9.4 Pendederan

Pendederan dilakukan dalam akuarium berukuran cm yang tadi juga berfungsi sebagai akuarium penetasan. Untuk luasan akuarium diatas dapat diisi larva dengan kepadatan 1000 ekor. Pakan untuk larva adalah nauplii Artemia yang baru menetas, diberikan setiap hari dengan frekuensi 3 kali sehari.

Pemberian pakan ke larva berupa nauplii Artemia mulai dilakukan pada hari ke empat setelah menetas, dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari. Pergantian air dilakukan setelah larva berumur 10-20 hari sebanyak 10-20% dilakukan 3 hari sekali.

Setelah benih berumur 20 hari dilakukan peyortiran ukuran ikan. Umur 2 bulan iakn mulai di sortir berdasarkan grade-nya. Grade A bila corak hitam ikan dari pangkal ekor sampai ke operkulum atau lebih dengan badan pendek, grade B apabila corak smpai setengah badan, sedangkan grade C apabila corak hanya di pangkal ekor. Corak setengah badan juga bias masuk kategori C jika berbadan panjang. Kegiatan peyortiran dilakukan setiap 2 minggu. Setelah lebih dari 20 hari benih diberi  pakan berupa kutu air (Daphnia, Moina), nauplii Artemia, dan cacing rambut sebanyak 3 kali sehari. Setelah 2 bulan benih mencapai ukuran 1 inchi atau sekitar 2,5 cm maka benih siap jual.

 

3.10 Corydoras Sterbai (Corydoras sterbai)

Ikan corydoras merupakan ikan hias yang menarik dan banyak disukai oleh penggemar ikan hias. Warna, bentuk dan perilaku ikan ini sangat menarik dan tidak agresif terhadap ikan lain. Di alam corydoras mempunyai banyak jenis kira-kira mencapai 90 jenis, diantaranya adalah corydoras sterbai.

Ikan ini dapat mencapai panjang 8 cm dengan tubuh yang lebih langsing pada yang jantan dan betina yang lebih gemuk. Warna tubuhnya belang hitam putih dengan corak hitam yang vertikal. Senang hidup bergerombol di dasar perairan yang kaya makanan seperti cacing sutra atau larva Chironomus.

 

3.10.1 Pemeliharaan Induk

Induk Corydoras yang baik dipilih yang sudah berumur 6-8 bulan. Induk jantan berukuran lebih kecil dibandingkan betina yang bertubuh lebih gendut. Induk dipelihara di akuarium berukuran  cm dengan kepadatan 50-80 induk, sebaiknya pisahkan induk jantan dan betina dalam akuarium berbeda.

Selama pemeliharaan induk di beri pakan cacing beku (blood worm), atau cacing tanah yang berukuran kecil. Pemberian pakan dilakukan dengan frekuensi dua kali sehari secara at satiation. Pergantian air perlu dilakukan sebanyak 10% setiap dua kali seminggu. Penyifonan dilakukan setiap hari agar kotoran dan sisa pakan yang menumpuk tidak membusuk dan menyebabkan kadar ammonia meningkat. Air yang hilang setelah penyifonan diganti seperti sebelumnya.

 

3.10.2 Pemijahan

Pemijahan dilakukan dalam akuarium berukuran cm atau bak semen dengan ukuran cm dengan kedalaman untuk akuarium 25 cm dan untuk kolam semen adalah  40-50 cm. Perbandingan jantan dan  betina adalah 3:2 atau 2:1, tapi pada umumnya adalah 2 jantan dan 1 betina. Pemijahan biasanya terjadi pada pagi hari sampai menjaelang siang. Telur yang dikeluarkan diletakkan pada substrat berupa kaca, tanaman air, tali rafia dan batu tapi sebaiknya gunakan salah salah satu bahan tersebut.

Media yang telah ditempeli oleh telur sebaiknya segera diangkat dan dipindahkan dalam akuarium penetasan, atau bisa dilakukan pengangkatan induk. Induk yang telah memijah sebaiknya dipelihara kembali untuk mematangkan telurnya. Dalam sekali pemijahan seekor induk dapat mengeluarkan 50-300 telur.

3.10.3 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva/Benih

Telur ditempatkan dalam akuarium penetasan yang berukuran sama dengan akuarium pemijahan. Agar tidak terserang jamur sebaiknya diberi MB sebanyak 2 ppm. Telur akan menetas setelah tiga hari, dan larva yang menetas baru bisa diberi pakan tiga hari kemudian. Pakan yang diberikan adalah nauplii Artemia sampai larva berumur seminggu.

Setelah berumur seminggu pakan diganti dengan kutu air (Daphnia), tapi sebaiknya pada masa peralihan pakan ini Artemia masih dicampurkan dalam kutu air agar tidak kaget. Kutu air diberikan selama tiga minggu yang selanjutnya dapat diberikan cacing sutra halus dan ukurannya sedikit ditambah seiring bertambahnya umur ikan. Setelah berumur dua bulan maka ikan telah siap jual.

Kualitas air pemeliharaan larva atau benih harus diperhatikan agar tidak terjadi kematian masal akibat keracunan. Pergantian air dilakukan secara rutin, begitu juga dengan penyifonan dilakukan setiap habis pemberian pakan agar kotoran dan sisa pakan tidak bertumpuk. Air yang terbuang karena penyifonan diganti air yang baru.

 

3.11 Ikan Platy (Xyphophorus sp)

Ikan platy adalah ikan ovovivipar artinya ikan tersebut beranak dan bertelur atau sering umum disebut beranak saja yang dalam bahasa Inggris disebut dengan livebearer. Ikan jantan akan membuahi telur betina yang masih berada dalam  tubuhnya. Ikan platy yang banyak dikenal dikalangan penghobi ikan hias antara lain : platy koral, sunset, mickey mouse, pedang, cendrawasih, variatus, dan hawaii. Meskipun mempunyai varian yang banyak namun pada dasarnya mempunyai ciri yang sama. Ikan ini dapat mencapai ukuran tubuh sebesar 12 cm, atau bahkan lebih pada beberapa jenis tertentu.

 

 

Warna untuk setiap strain sangat variatif dan banyak sehingga menarik minat banyak orang untuk memeliharanya. Sebagian besar jantan dan betina mempunyai warna yang sama sehingga harga jantan dan betina sama, kecuali pada beberapa jenis seperti cendrawasih yang berbeda jantan dengan betinanya.

Ikan platy bersifat pendamai sehingga cocok jika dicampur dengan ikan hias lain. Keistimewaan ikan ini adalah dapat beranak 4-5 kali hanya dalam sekali pemijahan. Hal ini karena induk betina mempunyai kemampuan untuk menyimpan sperma jantan dalam jangka waktu tertentu. Suhu yang baik untuk pemeliharaan platy adalah 25-28 0C dengan pH 7.0-7.5 serta dH atau hardness sebesar 10-150.

 

3.11.1 Pemeliharaa Induk

Induk platy dapat dipelihara di akuarium atau dalam bak beton, untuk akuarium berukuran cm atau bak semen dengan ukuran cm. Untuk akuarium dapat diisi induk sebanyak 100 ekor dan untuk bak semen dapat diisi induk sebanyak 200 induk atau lebih. Induk jantan dan betiana sebaiknya dipisah agar tidak ada yang memijah secara liar.

Pakan yang diberikan dapat berupa cacing beku (blood worm) atau kutu air, bisa juga diberikan pelet jika induk mau memakannya, sebaiknya hindarkan pemberian cacing sutra. Pakan diberikan dua kali sehari pagi dan sore sampai ikan kenyang .

Selain pakan kualitas air memegang peranan penting dalam pemijahan ikan ini. Air yang digunakan sebaiknya telah diendapkan dalam tandon selama semalam dan diberi aerasi. Pergantian air dilakukan setiap hari sebanyak 20-50% atau tergantung tingkat kekotoran air. Penyifonan sisa pakan dan kotoran juga dilakukan setiap hari.

 

3.11.2 Pemijahan

Induk platy yang baik adalah yang telah berusia 2-4 bulan dengban jantan mempunyai gonopodium yaitu modifikasi sirip anal yang berfungsi untuk menyalurkan sperma ke dalam tubuh induk betina. Sedangkan induk betina yang telah matang badannya agak sedikit gemuk.

Akuarium untuk pemijahan sebaiknya berukuran cm dengan setengahnya diisi dengan tanaman air yang terendam seperti Cabomba dan jenis lain. Fungsi dari tanaman air ini adalah untuk tempat persembunyian anak ikan yang baru lahir agar terhindar dari pemangsaan induk. Perbandingan jantan dan betina adalah 2:3 dan selama pemijahan induk dapat diberi pakan. Setelah memeijah induk betina akan terlihat lebih gemuk dan akan melahirkan anak beberapa hari kemudian.

3.11.3 Pemeliharaan Larva atau Benih

Anak yang telah lahir sebaiknya segera diambil dari akuarium pemijahan dan diletakkan dalam kolam pendederan yang berukuran cm. Anak yang baru lahir beberapa saat kemudian sudah dapat mengambil pakan dari luar. Pakan yang diberikan adalah kutu air yang halus atau kalau bisa adalah Artemia. Anak platy akan mencapai ukuran siap jual ketika berumur 2.5 bulan atau berukuran 2 cm.

 

3.12 Ikan Red Fin (Labeo frenatus)

Ikan redfin atau yang nama dagangnya adalah red fin shark adalah ikan asli vietnam yang ditmukan di sekitar sungai Mekhong. Ikan ini bersifat omnivor dan sangat menarik dengan warna tubuh coklat agak keabuan ada juga yang albino dengan warna sirip yang merah terang.

 

Di habitat aslinya ikan ini dapat mencapai panjang 12 cm dan sangat suka memakan lumut, sehingg akan tampak senang memakan lumut di dinding akuarium sehingga akuarium akan tampak bersih. Ikan ini bersifat pemalu sehingga akan keluar mencari makan pada malam hari.

3.12.1 Pemeliharaan Induk

Induk dipelihara dalam akuarium ukuran cm dengan ketinggian air sekitar 35-40 cm dan berisi sekitar  20 induk. Sebaiknya induk jantan dan betina ditempatkan dalam akuarium yang terpisah.

Pakan yang diberikan adalah cuk merah/cacing darah (Chironomus) atau cacing sutra dengan frekuensi pemberian pakan adalah 2-3 kali sehari. Pakan yang diberikan jangan terlalu berlebih karena akan menyebabkan air menjadi cepat kotor. Penyifonan dilakukan setelah pemberian pakan pagi dan air yang hilang selama penyifonan diganti dngan air yang baru. Apabila air sudah terlihat kotor maka dapat dilakukan pergantian air sebanyak 50-70% dari volume air akuarium.

 

3.12.2 Pemijahan

Pemijahan ikan red fin dilakukan dengan cara semi alami atau buatan dengan kawin suntik. Cara semi alami dilakukan dengan penyuntikan dan selanjutnya ikan dibiarkan memijah dengan sendiri, sedangkan cara buatan setalah penyuntikan induk jantan dan betina dilakukan stripping. Jantan dan betina dibedakan berdasarkan bentuk tubuhnya, jantan akan terlihat langsing dan pendek sedangkan betina akan tampak lebih panjang dan gemuk.

Pemijahan dilakukan dengan penyuntikn hormon Gonadotropin (GTH) buatan seperti Ovaprim pada induk yang sudah matang telur. Dosis yang digunakan adalah 0,3-0,7 ml/kg berat badan ikan. Suntikan dilakukan sekali saja, dengan cara memegang induk dengan tangan kiri dan penyuntikan dilakukan dengan tangan kanan. Pemijahan dilakukan secara masal, induk yang sudah bertelur harus segera diangkat dan dipindahkan dan telur-telur dibiarkan menetas tanpa induk.

Ikan ini berenang didasar sehingga telurnya akan berantakan jika terus bersama induknya. Oleh karena itu penyuntikan dilakukan siang hari agar induk bertelur di malam hari, karena waktu yang baik untuk mengangkat induk adalah malam hari. Misal penyuntikan dilakukan pada siang hari jam 11.00 maka diperkirakan induk akan bertelur pada malam hari pada jam 22.00.

 

3.12.3 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva/Benih

Telur red fin akan berserakan di dasar akuarium, diamkan dengan aerasi yang sedang maka  telur akan menetas setelah 24 jam. Larva yang baru menetas tidak diberi makan karena masih mempunyai kuning telur. Larva akan berenang setalah berumur sekitar 3-4 hari.

Pakan yang diberikan berupa infusoria untuk larva yang berumur 3-4 hari. Pakan selanjutnya apabila telah besar adalah nauplii Artemia, kutu air halus, dan cacahan cacing sutra. Setelah besar dapat diberikan pakan cacing sutra atau cacing darah. Red fin akan mencapai ukuran siap jual pada umur sekitar 4 bulan atau panjang sekitar 5 cm. Air dalam akuarium sering kotor karena red fin senang mengaduk dasar, sehingga sisa pakan dan kotoran akan melayang di air. Untuk itu perlu dilakukan penyifonan dan pergantian air seperlunya seperti pada pemeliharaan induk.

3.13 Ikan Zebra Danio (Brachydanio rerio)

Ikan zebra danio berasal dari Myanmar, India dan Srilangka. Ukuran tubuh dewasa sekitar 5 cm. Ikan jantan mempunyai tubuh yang lebih ramping dan warna yang lebih cerah dibandingkan dengan betina yang agak gemuk dan warna yang agk kusam. Ikan zebra danio merupakan ikan omnivora tetapi cenderung ke karnivbora karena menyukai pakan hidup berupa cuk merah atau  kutu air.

Kualitas air untuk pemeliharaan ikan zebra danio relatif sama dengan ikan hias pada umumnya. Ikan ini membutuhkan suhu yang agak rendah sekitar 25-27 0C. Derajat keasamaan yang dibutuhkan adalah 6.5-7.0 dengan hardness sekitar 6-80.

Ikan zebra danio mempunyai warna yang menarik yaitu garis-garis horizontal biru dan dan putih perak yang terletak diseluruh tubuh sampai siripnya. Untuk membedakan jenis kelamin ikan zebra sulit pada ikan yang masih kecil, tetapi akan mudah pada ikan yang sudah dewasa.

 

3.13.1 Pemeliharaan Induk

Induk dipelihara dalam akuarium ukuran cm dengan kepadatan sekitar 90-100 induk. Sebaiknya antara induk jantan dan betina dipaisahkan agar tidak terjadi pemijahan liar. Selain dalam akuarium induk dapat juga dipelihara dalam kolam dengan ukuran cm dapat diisi induk dengan kepadatan 200 ekor.

Untuk mempercepat kematangan gonad induk diberi pakan kutu air atau cuk merah (Daphnia dan Chironomus). Frekuensi pemberian pakan adalah dua kali sehari. Pergantian air perlu dilakukan sebanyak 10% setiap hari. Penyifonan dilakukan setiap hari agar kotoran dan sisa pakan yang menumpuk tidak membusuk dan menyebabkan kadar ammonia meningkat. Air yang hilang setelah penyifonan diganti seperti sebelumnya.

 

3.13.2 Pemijahan

Pemijahan ikan zebra danio dapat dilakukan dalam akuarium atau dalam kolam atau bak semen. Ikan yang telah siap diletakkan di akuarium atau kolam pada sore hari sekitar jam 5 sebaiknya betina diletakkan terlebih dahulu, dengan perbandingan jantan dan betina 1:1. Tempat pemijahan sebaiknya diberikan tanaman air yang tebal atau bisa dengan buatan seperti tali rafia atau tali tambang yang diuraikan.

Induk akan memijah pada pagi hari sekitar pukul 6 yang ditandai dengan perilaku ikan yang saling berkejaran. Sebaiknya amati pemijahan sampai ikan selesai memijah. Setelah selesai sebaiknya induk dipindahkan pada akuarium pemeliharaan induk.

 

3.13.3 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva/Benih

Telur dapat dipindahkan ke akuarium penetasan atau dapat ditetaskan di akuarium pemijahan. Telur akan menetas setelah 40 jam kemudian atau  kira-kira dua hari. Larva yang baru menetas berada di dasar akuarium bergerak-gerak secara acak. Larva baru diberi pakan setelah berumur 4 hari dengan menggunakan suspensi kuning telur. Kuning telur diberikan selama 3-5 hari setelah itu larva diberi Artemia. setelah satu minggu dapat diberikan kutu air (Daphnia) yang halus sebagai campuran Artemia.

Ikan Zebra akan mencapai ukuran M setelah satu bulan pemeliharaan, ukuran M itu kira-kira sepanjang 1-1,5 inci. selama pemeliharaan pakan yang diberikan adalah cacing sutra sebanyak dua kali sehari. Pergantian air dan penyifonan harus sering dilakukan, mengingat zebra agak rentan dengan kualitas air yang buruk.

3.14 Ikan Neon Tetra (Paracheirodon innesi)

3.14.1 Deskripsi Ikan Neon Tetra

Ikan neon tetra merupakan ikan asli Amerika Latin dimana penyebarannya meliputi seluruh system irigasi sungai Amazon, Brazil. Ikan ini merupakan salah satu komoditas ekspor yang banyak diminta oleh eksportir. Selain itu budidaya ikan ini tergolong cepat, mulai dari tahap penetasan sampai dengan siap jual. Biasanya petani menggunakan akuarium untuk membudidayakan ikan ini mulai dari skala kecil hingga skala menengah. Ikan ini termasuk jenis omnivora dimana pakannya dapat berupa pakan alami seperti Daphnia, cacing tubifeks atau pakan buatan. Fekunditas ikan neon berkisar antara 100-200 butir setiap kali memijah dengan waktu pemulihan antar memijah berkisar 12-15 hari. Ciri-ciri umum ikan neon tetra sebagai berikut :

  • Badan memanjang dan pipih dengan pola warna ynag khas yakni terdapat garis biru di sepanjang tubuhnya mulai dari mata hingga ke pangkal ekor.
  • Panjang total ukuran maksimal 1,25 inch.
  • Memiliki sirip punggung tambahan dibelakang sirip punggung utama dimana ukurannya lebih kecil.

Ikan neon tertra termasuk ikan yang suka berkelompok, oleh karena itu dalam satu akuarium biasanya jumlah ikan neon lebih dari 20 ekor. Ikan neon tetra bersifat pendamai, sehingga dapat dicampur dengan ikan-ikan lain terutama dengan jenis-jenis tetra lainnya.

 

 

3.14.2 Pemeliharaan Induk

Usaha pembenihan ini dimulai dari pemeliharaan induk untuk mencapai kematangan gonad, kemudian dilanjutkan dengan proses pemijahan, penetasan, pemeliharaan larva hingga pendederan.

Induk ikan neon tetra dapat dibedakan antara jantan dengan betina berdasarkan tanda-tanda pada tubuhnya. Induk jantan ditandai dengan garis biru yang lurus dan perut yang ramping sedangkan betina ditandai dengan garis neon yang bengkok serta perut yang gendut.

Pemeliharaan induk dilakukan di akuarium ukuran  cm dengan air setinggi 25 cm. Induk ditebar di dalam akuarium sebanyak 200 ekor per akuarium dengan pemeliharaan ikan neon jantan dan betina dipisahkan. Pemberian pakan berupa pakan alami berupa Daphnia (kutu air) dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari. Untuk menjaga kualitas air, setiap hari dilakukan penyiphonan.

 

3.14.3 Pemijahan

Pemijahan dilakukan pada akuarium kecil dengan ukuran  cm dengan ketinggian air 10 -15 cm. Induk yang dipijahkan sebanyak satu pasang per akuarium. Induk mulai dipasangkan pada sore hari (pukul 16.00) dan tanpa pemberian substrat apapun tetapi dapat juga dilakukan penambahan substrat berupa tanaman air dengan kondisi yang sudah bersih.

Kemudian akuarium di tutup dengan plastik hitam untuk menciptakan suasana gelap dan tenang untuk induk melakukan pemijahan. Waktu pemijahan untuk induk kurang lebih 16 jam dan terjadi pada malam atau pagi harinya. Sesudah bertelur, induk dapat diambil atau dikeluarkan dari akuarium.

 

3.14.5 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva/Benih

Penetasan telur dapat dilakukan diakuarium pemijahan (akuarium kecil) atau pada akuarium yang berukuran besar (). Telur akan menetas selama 24 jam. Tahap selanjutnya yaitu pendederan dimana larva dipelihara hingga benih.

Pemberian pakan berupa pakan alami berupa Artemia (Artemia sp) untuk larva sampai umur 5-7 hari selanjutnya pakan diganti Daphnia (kutu air) untuk larva hingga umur benih. Frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari. Untuk menjaga kualitas air, setiap hari dilakukan penyiphonan. Pada fase pemeliharaan ini umumnya petani ikan menggunakan daun ketapang untuk menciptakan suasana asam sesuai dengan karakteristik benih ikan neon tetra.

Pembesaran ikan neon tetra umumnya dilakukan di akuarium ukuran  cm dengan kepadatan ikan 3000 ekor (dari larva hingga ukuran S) atau pada kolam semen/beton berukuran 2x4x2 m dengan kepadatan 10.000 ekor (dari ukuran S hingga M atau L). Pemberian pakan berupa pakan alami berupa Daphnia (kutu air) dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari. Untuk menjaga kualitas air, minimal 2 hari sekali dilakukan penyiphonan.

 

3.15 Ikan Mas Koki (Carassius auratus)

Ikan mas koki yang memiliki nama dagang goldfish merupakan ikan yang berasal dari Cina. Ikan ini bersifat omnivora dan dapat hidup baik pada suhu 19-28 0 C dengan suhu optimal 24-28 0 C. Kisaran pH yang diinginkan antara 7.0-7.5. Ikan mas koki memiliki fekunditas antara 2000-4000 butir telur. Ikan ini memiliki warna serta bentuk tubuh yang indah dan unik sehingga banyak diminati oleh konsumen ikan hias baik itu konsumen lokal maupun mancanegara.

Ciri-ciri ikan mas koki secara umum antara lain sebagai berikut :

  • Bentuk utubuh umumnya pendek/bulat, gempal dan berukuran relatif kecil (lebih kecil dari ikan mas biasa).
  • Kepala pada umumnya kecil dengan berbagai bentuk sesuai dengan jenisnya. Namun demikian pada beberpa jenis di bagian atas kepala dan pipinya ditutupi oleh selaput/daging yang menebal sehingga kelihatan seperti singa.
  • Sisiknya mengkilap dan tersusun berderet dengan rapi menutupi tubuh. Warna sisik sangat indah dan bervariasi, ada yang hitam, kuning, merah dan putih kuning tergantung pigmen.
  • Sirip ekor umumnya lebar dan ada juga yang berumbai. Sedangkan sirip perut dan sirip dada bersama gelembung udara berperan sebagai pengatur gerakan naik turunnya ikan dalam media air.

Varietasnya berkembang menjadi sangat banyak  akibat silangan berbagai warna dan bentuk badan. Namun, hanya ada dua kelompok besar ikan mas koki, yaitu memiliki dua sirip ekor dan satu sirip ekor. Ikan bersirip dua buah pun masih bisa dibagi atas ikan bersirip punggung seperti koki spenser, raket, mutiara, dan tossa serta ikan tidak bersirip punggung seperti ranchu, kumpai dan mata balon.

3.15.1 Pemeliharaan Induk

Proses pembenihan dimulai dari pemeliharaan induk untuk mencapai kematangan gonad, kemudian dilanjutkan dengan proses pemijahan, penetasan, pemeliharaan larva hingga pendederan. Pemeliharaan induk diawali dengan seleksi induk. Induk yang berkualitas memiliki ciri-ciri antara lain tidak cacat, sehat, tampak aktif, bentuknya proporsional, ukurannya terbesar diantara kelompok umurnya, dan berumur lebih dari lima bulan. Induk ikan mas koki dapat dibedakan antara jantan dengan betina berdasarkan tanda-tanda pada tubuhnya (Tabel 3.1).

Tabel 3.1. Perbedaan Induk Jantan dan Induk Betina pada Ikan Mas Koki

Bagian yang diamati Ikan Jantan Ikan Betina
1. Sirip dada Terdapat bintik-bintik bulat menonjol dan terasa kasar bila diraba. Tidak terdapat bintik-bintik bulat menonjol dan terasa halus bila diraba.
2. Bentuk anus Oval dan halus. Bulat dan kasar.
3. Bentuk  badan Pada ukuran induk, badan lebih langsing. Pada ukuran induk, badan lebih gemuk dan membulat.

 

Sebelum dipijahkan, sebaiknya induk jantan dan betina dipisahkan terlebih dahulu dan dipelihara sekitar 2 minggu. Pemeliharan induk ini sebaiknya dilakukan di dalam kolam dengan kepadatan yang rendah, sekitar 20 ekor/m2. Pakannya dapat berupa pelet, cacing rambut ataupun cacing darah. Agar kualitas telur menjadi baik, jentik nyamuk akan lebih baik dijadikan sebagai pakan induk. Pakan alami lebih baik digunakan karena memiliki kandungan nutrisi yang lebih lengkap daripada pakan buatan.

 

3.15.2 Pemijahan

Setelah sudah siap berpijah barulah kedua induk ini dapat dipelihara bersama. Tanda induk yang siap berpijah adalah perut akan terasa lembek dan lembut bila diraba. Bahkan jika ditekan sedikit akan keluar telur (betina) dan keluar cairan putih susu/sperma untuk induk jantan.

Tempat pemijahan mas koki berupa bak fiber atau kolam. Ukurannya tergantung pada jumlah induk ikan yang akan digunakan. Bila hanya sepasang induk, kolam berukuran cm dapat digunakan. Bila pemijahan dilakukan secara masal dengan induk 2-5 pasang, paling tidak ukuran kolamnya m.

Pemijahan akan lebih baik jika perbandingan antara jantan dan betina 2 : 1, baik untuk pemijahan sepasang ataupun masal. Ini dilakukan agar telur dapat terbuahi seluruhnya. Kedalaman air sebaiknya 15-20 cm. -Ke dalam wadah dapat diberikan substrat berupa enceng gondok muda yang sudah dibersihkan terlebih dahulu.

Pemijahan biasanya terjadi pada malam hari atau dini hari. Bila sarangnya dipasang pada sore hari, maka telurnya dapat dilihat pada pagi hari berikutnya. Namun, kalau belum mau memijah, airnya dapat diganti setengahnya agar induk terangsang untuk memijah. Jumlah telur mas koki sangat banyak. Setiap induk betina dapat menghasilkan 2000-4000 butir telur.

 

3.15.3 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva/Benih

Telur yang ada di enceng gondok dapat dipindahkan ke dalam wadah penetasan. Bisa juga bukan telurnya yang dipindahkan tetapi induknya. Perlakuan pemindahan induk akan lebih baik dilakukan dibanding pemindahan telur, karena telur lebih sensitif dan dapat menyebabkan telur berserakan ke dasar perairan.

Telur-telur tersebut biasanya akan menetas setelah tiga hari keluar dari induknya asalkan tidak terkena hujan dan mendapat cukup sinar matahari. Telur akan menetas menjadi larva ikan dan larva akan mulai berenang setelah seminggu menetas. Pada saat larva mulai menetas, enceng gondok dapat dikeluarkan dari wadah penetasan. Selanjutnya air dapat mulai dialirkan ke dalam wadah  atau diganti setengahnya.

Pada umur seminggu larva ikan mas koki sudah dapat diberi makanan berupa tetasan telur Artemia atau infusoria. Dua atau tiga hari kemudian larva dapat diberi Daphnia/kutu air saring. Sesudah agak besar (sekitar dua minggu) ikan dapat diberi cacing rambut dan pelet. Umur 3-4 minggu, kegiatan penjarangan dapat dilakukan. Frekuensi tingkat pemberian pakan 3 kali sehari.

Pembesaran ikan mas koki umumnya dilakukan di kolam yang agak luas, sekitar 1.5-1.5 m. Ketinggian air minimal 25 cm dengan kepadatan ikan  sekitar 30-40 ekor/m2. Pemberian pakan berupa pakan alami seperti Daphnia (kutu air) dengan frekuensi pemberian pakan 2-3 kali sehari. Untuk menjaga kualitas air, minimal 2-3 hari sekali dilakukan penyiphonan/ganti air sebanyak 1/3 volume air.

Pembesaran ikan mas koki dilakukan hingga ukuran 5 cm (seukuran diameter telur ayam). Waktu yang diperlukan kurang lebih 3-4 bulan. Persentase kelangsungan hidup (survival rate) antara 80-90 %. Selama pemeliharaan, kolam sebaiknya tersinari oleh cahaya matahari. Hal ini dapat memacu munculnya pola warna yang cerah pada tubuh ikan.

 

 

 

3.16 Ikan Diskus (Symphisodon spp)

3.16.1 Deskripsi Ikan Diskus

Ikan diskus berasal dari Rio Negro dan perairan tenang Sungai Amazon. Sifatnya omnivora dan gerakannya sangat halus. Ikan inipun terkenal sebagai ’King of Aquarium’. Ikan diskus memiliki fekunditas antara 100-300 butir telur. Ikan ini banyak diminati oleh konsumen ikan hias karena warna serta bentuk tubuh yang indah. Karena itu pula permintaan akan ikan diskus terus berjalan baik untuk pasar lokal maupun ekspor.

Ciri-ciri ikan diskus secara umum antara lain sebagai berikut :

  • Bentuk badan pipih dan seperti lingkaran jika dilihat dari samping.
  • Pola warna disepanjang tubuhnya berupa gari-garis pendek dengan warna garis berbeda-beda sesuai dengan jenisnya.

Ada empat spesies diskus yang dibudidayakan antara lain Heckel Discus, Brown Discus, Green Discus dan Blue Discus. Suhu yang baik untuk pemeliharaan diskus berkisar 25-30O C. Sementara kisaran kualitas air seperti keasaman (pH) cukup lebar sekitar 5-6, 5 dan kekerasan air lunak antara 3-5O dH.

 

 

3.16.2 Pemeliharaan Induk

Usaha Pembenihan. Pemijahan ikan diskus dimulai dengan seleksi induk, dengan ciri-ciri antara lain tidak cacat, sehat, tampak aktif, bentuknya proporsional, ukurannya terbesar diantara kelompok umurnya, gemuk, mulut relatif besar, dan berumur lebih dari setahun. Usaha pembenihan ini dimulai dari pemeliharaan induk untuk mencapai kematangan gonad, kemudian dilanjutkan dengan proses pemijahan, penetasan, pemeliharaan larva hingga pendederan. Induk ikan diskus dapat dibedakan antara jantan dengan betina berdasarkan tanda-tanda pada tubuhnya (Tabel 3.2).

Tabel 3.2. Perbedaan Induk Jantan dan Induk Betina pada Ikan Diskus

Bagian yang diamati Ikan Jantan Ikan Betina
1. Alat kelamin Runcing Lebar dan bulat
2. Bentuk bibir Bibir atas lebih menonjol Simetris dan sama besar antara bibir atas dan bawah
3. Bentuk hidung Bentuk agak bengkok Bentuk lurus
4. Bentuk sirip dubur Bentuk lurus Bentuk bulat
5. Pola warna Cerah dan menyebar ke seluruh tubuh Sedikit warna pada wajah dan badan

 

Pemeliharaan calon induk ikan diskus dilakukan dengan mencempurkan ikan jantan dan betina pada satu akuarium ukuran  cm. Induk dibiarkan memilih pasangannya sendiri dalam kelompok calon induk. Bila sudah tampak berpasangan dengan terus berenang bersama maka pasangan induk tersebut dapat dipisahkan dari kelompoknya. Pakan untuk induk dapat berupa pakan alami (cacing darah dan jentik nyamuk) atau pakan buatan pakan seperti pelet khusus untuk diskus.

 

 

3.16.2 Pemijahan dan Pemeliharaan Larva

Pemijahan induk dilakukan per pasang pada akuarium ukuran cm. Sarang telur biasanya dibuat dari potongan paralon atau sarang buatan yang terbuat dari tanah liat yang diletakkan di pojok atau tengah akuarium pada posisi berdiri. Seperti halnya ikan lain, induk diskus pun akan membersihkan sarangnyasebelum meletakkan telur-telurnya.

Induk ikan diskus bersifat parental care dimana telur dan larva yang dihasilkannya akan dirawat/diasuh. Sehingga telurnya tidak dapat dipisahkan dari induknya dan dibiarkan menetas dalam wadah pemijahan. Telur-telur tersebut akan menetas dalam waktu 2-3 hari. Larva ini akan terus menempel pada induknya hingga berumur seminggu. Biasanya larva akan berenang setelah berumur seminggu. Selanjutnya larva akan ’menyusu’ pada induknya dengan memakan lendir yang terdapat pada tubuh induknya.

Walaupun ikan ini bersifat merawat telur dan anaknya tapi ada juga induk yang memakan telur-telurnya. Sementara larva yang sudah berenang tidak ikut dimakan. Olah karena itu, biasanya peternak memberi sekat untuk membatasi induk dengan telurnya.

Pakan untuk larva ikan diskus berasal dari induknya, namun akan lebih baik lagi jika ditambahkan naupli Artemia atau kutu air saring. Bila larva sudah pisah dari induk, pakannya dapat diganti dengan kutu air besar.  Diskus berumur sebulan atau lebih bisa diberi pakan cacing sutera, cacing darah, jentik nyamuk atau pakan buatan jika ikan sudah dewasa. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 2 kali sehari.

Untuk menjaga kualitas air dilakukan pergantian air atau siphon setiap 1-2 hari sekali sebanyak sepertiga atau setengah volume air. Ukuran 4 cm atau berumur sekitar  3 bulan mulai dapat dipanen dan dijual.

Pembesaran ikan diskus umumnya dilakukan di akuarium ukuran cm. Pemberian pakan berupa pakan alami seperti Daphnia (kutu air) dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari. Untuk menjaga kualitas air, minimal 2 hari sekali dilakukan penyiphonan.

3.17 Botia India (Botia lohachata)

3.17.1 Deskripsi Ikan Botia

Ikan Botia India masuk kedalam famili Cobitidae dengan badan yang mirip dengan pesawat jet, dengan mulut yang agak bengkok ke bawah. Badan kompres dengan banyak  garis hitam memotong badan secara melintang. Panjang ikan ini dapat mencapai 10 cm. Mempunyai alat peraba diujung mulutnya untuk mengaduk dasar perairan untuk mencari makan. Ikan dari genus botia umumnya bersifat nocturnal atau bersifat aktif pada malam hari. Botia hidup di dasar perairan dan suka bersembunyi di tempat persembunyiannya.

Untuk pemeliharaan di akuarium dibutuhkan dasar berpasir halus dengan batu-batu dan vegetasi yang cukup melindungi. Botia tergolong ikan yang pendamai sehingga dalam akuarium dapat dicampur bersama ikan lain. Kualitas air yang baik untuk pemeliharaan botia india adalah pada suhu 26-30 0C dan pH 6.0-7.0.

 

 

3.17.2 Pemeliharaan Induk

Induk botia India berukuran 7-10 cm yang telah dipelihara selama 9 bulan dari ukuran 1,5 inci. Induk dipelihara dalam akuarium berukuran  dengan ketinggian air 35 cm. Induk dalam tiap akuarium berjumlah 17 ekor, antara induk jantan dan betina diletakkan dalam satu akuarium. Akuarium dilengkapi dengan pipa PVC berdiameter 3 inci sebagai tempat persembunyian botia.

Pakan diberikan sebanyak tiga kali sehari secara ad libitum mulai pukul 08.00, 12.00, dan sore hari pada pukul 17.00. Pakan yang diberikan adalah chu merah (Chironomus sp), sedangkan pemberian cacing sutra dilakukan sore hari sebagai cadangan makanan pada malam hari.

 

2.17.3 Perangsangan Pematangan Gonad

Pemijahan dilakukan dalam akuarium ukuran cm dengan ketinggia air 35 cm. Sebelum pemijahan dilakukan pemilihan induk. Pemilihan induk  dilakukan pada pagi hari dengan tujuan didapatkan induk yang benar-benar matang gonad. Induk dipuasakan dahulu untuk menghindari kesalahan dalam penyeleksian terutama untuk induk  betina. Selain untuk penyeleksian tujuan lain yaitu untuk memisahkan induk jantan dengan betina.  Perbedaan jantan dan betina dapat dilihat dari ukuran dan bentuk tubuh, untuk jantan pada umur yang sama mempunyai ukuran yang lebih kecil bagian perut langsing dan tidak melebar, pada betina tubuh lebih besar pada umur yang sama dan perut lebih lebar.

 

 

Botia india termasuk ikan yang belum bisa dipijakan secara alami sehingga harus dilakukan perangsangan ovulasi, salah satu cara dengan penyuntikan. Setelah dilakukan seleksi maka induk ditampung dalam ember yang terpisah dan diberi aerasi. Sebelum dilakukan penyuntikan, induk ditimbang untuk mengetahui dosis yang akan digunakan. Sebelum ditimbang induk, induk dibius dengan minyak cengkeh dosis sebanyak 1 ppm.

Penyuntikan dilakukan sebanyak dua kali, penyuntikan pertama dilakukan pada sore sekitar pukul 17.00 WIB sedangkan penyuntikan kedua dilakukan pada pukul 4 jam setelah penyuntikan pertama. Hormon yang digunakan adalah Ovaprim dengan dosis penyuntikan sebanyak 0.5 ml/kg induk. Sebelum disuntik induk kembali dibius untuk memudahkan dalam penyuntikan. Penyuntikan dilakukan secara intra muscular pada bagian punggung induk dengan sudut 45 0

 

3.17.4 Pemijahan

Setelah penyuntikan induk ditebar dalam akuarium pemijahan dengan perbandingan jantan : betina adalah 3 : 1. Pemijahan berlangsung secara alami, artinya setelah disuntik induk dibiarkan tanpa dilakukan striping. Pemijahan berlangsung, biasanya terjadi 4-6 jam setelah penyuntikan kedua.

 

3.17.5 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva

Setelah pemijahan, induk diangkat dan dipindahkan ke akuarium pemeliharaan induk, sedangkan telur dibiarkan dalam akuarium pemijahan. Sifat telur botia india adalah melayang dalam kolom perairan dan langsung mengembang saat bersentuhan dengan air. Telur yang dibuahi adalah transparan dengan inti yang juga transparan. Sedangkan telur yang tidak dibuahi akan berwarna putih keruh. Pada suhu 26-27 0C telur akan menetas setelah 15-17 jam.

Larva dipelihara dalam akuarium pemijahan, hal ini dsilakukan untuk mengurangi resiko kematian pada larva. Larva yang baru menetas berukuran sekitar 2 mm, transparan, melayang-layang dikolom air dan bergerak mengikuti arus air.

 

3.17.6 Pemberian Pakan

Larva mulai diberi pakan pada umur 2 hari dengan suspensi kuning telur yang telah direbus. Pemberian dilakukan dengan meremas kuning telur dengan kain berserat halus. Pemberian kuning telur jangan terlalu banyak karena akan mengakibatkan  air menjadi  keruh dan kandungan amoniak meningkat. Setelah larva berumur 5 atau 1 minggu, pemberian kuning telur dapat dicampur dengan Artemia. Pemberian kuning telur dihentikan jika larva sudah benar-benar dapat memakan Artemia. Untuk mengetahui waktu yang tepat dalam pemberian Artemia setelah kuning telur dilihat dari larva apabila telah menempel di dinding akuarium, maka larva sudah siap untuk memakan Artemia.

Pada umur dua minggu larva sudah dapat diberikan cacing sutra yang dicacah halus. Pada awal pemberian cacing sutra masih dicampur dengan Artemia, sampai larva benar-benar dapat memakan cacing sutra.  Satu minggu kemudian benih disamping cacing sutra yang dicacah diberikan juga cacing sutra yang tidak dicacah.

 

 

3.17.7 Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan kualitas air pertama kali dilakukan dengan menyiphon dasar akuarium. Penyiphonan dilakukan pertama kali dilakukan pada saat umur larva satu minggu. Air yang keluar dari selang sifon disaring guna menghindari larva yang lolos ikut terhisap pada waktu penyiphonan. Untuk selanjutnya penyiphonan dilakukan tiga hari sekali atu tergantung kondisi media pemeliharaan. Air yang terbuang pada saat peyifonan diganti dengan air yang baru yang telah ditampung dalam tandon.

3.17.8 Pendederan

Pendedera ikan botia biasanya disertai dengan penjarangan yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan dan menghasilkan benih siap jual berukuran 1,5 inci. Penjarangan dilakukan dengan menyortir ikan berdasarkan ukuran yang kemudian ikan yang berukuran sama diletakkan dalam satu akuarium berukuran cm dengan kepadatan 1 ekor/ liter. Kegiatan ini dilakukan pertama kali saat benih berumur 20 hari. Benih disortir berdasarkan dua ukuran yaitu besar sekitar 1,5 cm dan kecil kurang dari 1 cm.

Setelah dilakukan penjarangan maka benih dipelihara dan diberi pakan sebanyak tiga kali sehari sampai kenyang. Pakan yang diberikan berupa cacing sutra. Agar ikan lebih nyaman maka pada dasar akuarium diletakkan pipa paralon berukuran 3/­­4 inci sebagai tempat persembunyian. Pemeliharan dilakukan sampai ikan berukuran 1,5 inci.

 

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>