A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

TEKNOLOGI BUDIDAYA IKAN HIAS 6

VI. PENYEDIAAN PAKAN ALAMI

 

Penyediaan pakan alami penting untuk pembenihan dan pendederan ikan. Pakan alami yang digunakan untuk pembenihan ikan hias adalah kutu air (Daphnia, Moina), cacing rambut (Tubifex sp), jnetik nyamuk dan Artemia. Cara untuk pengadaan pakan almi akan dibahas dalam bab ini.

6.1 Kutu Air (Daphnia)

Kutu air biasanya diambil dari genangan air atau situ-situ (danau) pada pagi hari, sebab pada waktu tersebut kutu air berkumpul di permukaan air. Sebelum diberikan ke ikan kutu air sebaiknya dicuci dengan air bersih untuk mencegah bibit penyakit yang terbawa dari tempat asalnya.  Cara pencucian dilakukan dengan memsukkan kutu air dalam bak besar dan di beri aerasi, setelah itu saring dengan serokan dan bias langsung diberikan.

Kutu air dapat juga dikultur di kolam, bak semen, atau disawah. Klam dikeringkan sampai retak-retak, kemudian dipupuk dengan kotoran ayam sebanyak 300-500 gram per m2. Isi dengan air dan tunggu sampai air tidak keras, setelah itu dapat dimasukkan bibit kutu air. Setelah beberapa hari akan blooming dan siap dipanen. Jika ingin hasil yang di peroleh berkelanjutan, maka perlu dipupuk ulang dengan kotoran ayam.

 

6.2 Artemia

Artemia sebenarnya bukan dikultur, tetapi menetaskan cystenya. Penetasan Artemia dilakukan dengan air berkadar garam 25-30 ppt (gram/liter). Wadah penetasan bias dibuat dari bototl air mineral  kapasitas 1 galon atau fiber yang berebentuk corong atau bias juga dari kaca. Ke dalam wadah penetasan kita masukkan air dengan kadar garam seperti di atas, lalu dimasukkan cyste Artemia dan diaerasi kuat.

Selain cara penetasan di atas, dapat dilakukan juga proses dekapsulasi sebelum penetasan dengan tujuan menipiskan cangkang cyste Artemia sehingga kualitas dan kuantitas nauplii akan semakin tinggi. Dekapsulasi dilakukan dengan cara merendam kiste dalam larutan Klorin 40% atau Kaporit dan NaOH sebanyak 15 gram/l. Selama perendaman cyste harus terus-menerus diaduk sampai terjadi perubahan warna merah oranye.Selanjutnya cyste disaring dengan saringan halus dan dibilas dengan air tawar. Setelah itu dapat ditetaskan dengan prosedur seperti biasa.

Dalam waktu 20-24 jam Artemia akan menetas menjadi nauplii dan dapat diberikan ke larva ikan. Pemanenan dilakukan dengan mematikan aerasi sampai cangkang cyste naik ke permukaan dan Artemia turun ke dasar wadah. Setelah itu dapat dipanen dengan membuka selang panen dan ditampung di plankton net. Sebelum di berikan ke ikan Artemia dibilas dengan air tawar agar media penetasan tidak ikut terbawa.

 

6.3 Cacing Rambut

Cacing rambut sebenarnya bias dibudidayakan, tetapi sampai sekarang masih jarang yang membudidayakannya. Cacing rambut banyak ditemukan di sungai atau diselokan yang airnya banyak mengandung bahan organik. Karena itu sebelum diberikan ke ikan sebaiknya perlu dicuci dan ditampung selama 1-2 hari. Wadah untuk penampungan cacing rambut berbentuk kotak dengan ketinggian sekitar 10 cm dengan luas permukaan yang besar. Wadah tersebut dapat diaerasi dan diberi air mengalir. Bila jumlahnya terlalu banyak maka dapat dibekukan sebagian.